<object classid="clsid:D27CDB6E-AE6D-11cf-96B8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=7,0,0,0" width="600" height="400" >
<param name="allowScriptAccess" value="sameDomain">
Tuesday, December 27, 2011
Saturday, December 3, 2011
0 ON|OFF 2011 Empowered by Acer.
Pesta Blogger tahun ini diadakan hari ini, 3 Desember 2011 di Epicentrum Rasuna. Acara dimulai pada jam 10.00 pagi dengan menyanyikan lagu kebangsaan kita "Indonesia Raya".
Sunday, October 2, 2011
0 Membatik Asyik di Museum Tekstil bersama Komunitas Love Our Heritage
Hari ini 2 Oktober 2011, bertepatan dengan Hari Batik Nasional, kembali saya bergabung dengan Komunitas Love Our Heritage (LOH) untuk mengikuti kegiatan "Membatik Asyik di Museum Tekstil di Jl. K.S. Tubun, Petamburan, Jakarta.
Sunday, August 21, 2011
0 Open House Museum Katedral, Jakarta
Hari ini, Minggu, 21 Agustus 2011, Museum Gereja Katedral - Jakarta kembali mengadakan Open House. Saya senang sekali bisa hadir pada kesempatan tersebut, terlebih karena dipandu oleh rekan kami dari Komunitas Love Our Heritage, Mbak Graece Tanus yang kebetulan juga berperan sebagai salah satu public relation dari Museum Katedral, sehingga suasananya lebih rileks. Kami senang karena bisa berkumpul kembali dengan teman-teman dari Komunitas LOH yang terdiri dari beragam agama.
Friday, July 29, 2011
0 Jelajah Tempat-tempat Ibadah (The Spiritual Places) di area sekitar Pasar Baru bersama LOH (Love Our Heritage) – 24 Juli 2011
Di posting pertama ini, saya ingin sharing tentang keikut-sertaan saya bersama komunitas Love Our Heritage (LOH) hari Minggu lalu, 24 Juli 2011 mengunjungi tempat-tempat Ibadah di sekitar Pasar Baru, antara lain : Sai Study Group, Hare Krisna Temple, Vihara Sin Tek Bio dan Kuam Im Bio, GPIB Pniel (Gereja Ayam) dan Masjid Lautze.

Menurut info kali ini adalah kedua kalinya komunitas LOH mengadakan acara menjalajahi “Passer Baroe” bersama masyarakat umum (Sayang, kali pertama saya tidak bisa ikut serta).
Penjelajahan berawal dari Kantor Filateli (Pasar Baru), sebagai tempat berkumpul para perserta jelajah. Menurut penjelasan dari anggota LOH, Mas Adjie Hadipriawan, Kantor Filateli ini dulunya adalah gedung kantor pos dan telegraf ‘Passer Baroe’, yang dibangung dengan gaya art deco pada tahun 1913, guna menunjang kawasan pemerinatahan baru di Welevreden sebagai inti kota Batavia baru. Saat masa perjuangan kemerdekaan, kantor tersebut menjadi salah satu obyek vital yang diperebutkan oleh para pejuang kemerdekaan dengan tentara pendudukan yang menguasainya. Kini kantor ini digunakan untuk pelayanan dan wadah kegiatan yang berkaitan dengan filateli dan benda koleksi lainnya.
Berhubung jumlah peserta jelajah cukup banyak, maka peserta dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok pertama dipimpin oleh Ferry Guntoro, berangkat lebih dulu dan kelompok kedua oleh Mas Adjie Hadipriawan, kebetulan saya ikut rombongan kedua. Rombongan LOH diterima baik oleh para petinggi tempat ibadah, karena Mas Adjie dan Ferry telah melakukan kunjungan awal sebelumnya dan menyampaikan rencana kunjungan komunitas LOH.
Rombongan kami mengawali perjalanan bersama Mas Adjie berjalan kaki menyusuri trotoar lalu menyeberang jalan melalui jembatan Busway Pasar Baru
![]() |
| Sumber Foto: www.tnol.co.id |
menuju tempat ibadah yang pertama disinggahi yaitu Sai Study Group yang dikelola oleh Yayasan Sri Sathya Sai Baba Indonesia.
Di dinding tertera 9 pedoman perilaku (Nine code of conducts) dan 10 asas penuntun (Ten guiding principles) sbb. :
Rombongan LOH diterima baik oleh Pimpinan Sai Study Group, Kaycee, yang menemani rombongan kami berkeliling (para perseta harus melepas alas kaki). Dijelaskan bahwa di
Di dinding bagian luar ruang ibadah kami bisa melihat foto-foto Sai Baba dan juga kata-kata yang dapat memotivasi.
Di Sai Study Group ada juga lho toko yang menjual foto Sai Baba dan souvenir lainnya.
Di ruang ibadah utama terdapat foto Sai Baba dan juga Sai Baba sebelumnya.

Kami sempat berfoto disana bersama beberapa kawan rombongan kami.

![]() |
| Sumber Foto: www.tnol.co.id |
Rombongan melanjutkan kunjungan ke
Selanjutnya peserta rombongan menelusuri gang kecil di kawasan Pasar Baru, melanjutkan kunjungan ke Vihara Dharma Jaya (dahulu disebut Sin Tek Bio, sebelumnya dinamakan Kelenteng Het Kong Sie Huis Tek / Xin-de Miao) dan Kuan Im Bio, yang letaknya bersebelahan. Rombongan kami disambut baik oleh pengurus di sana, Bapak Santoso Witoyo, yang mendampingi rombongan berkeliling.


Adapun perubahan nama dari Kelenteng Het Kong Sie Huis Tek menjadi Sin Tek Bio yaitu setelah dibukanya Passer Baroe (Pasar Baru) pada tahun 1820 (Sejak itu disebut sebagai Sin Tek Bio / Kelenteng Pasar Baru), kemudian pada tanggal 12 Mei 1982 diubah lagi menjadi Vihara Dharma Jaya, dan dikelola oleh Yayasan Vihara Dharma Jaya.
Berikut adalah foto-foto di dalam Vihara, karena diijinkan untuk mengabadikannya :
Meskipun waktu kunjungan rombongan kami tidak ada perayaan khusus, namun altar utama Sin Tek Bio tetap dipenuhi pelita dan lampion yang menyala sepanjang tahun. Ini merupakan bukti kepercayaan umat yang masih sangat kuat pada berkah dan karunia Kong-co Hok-tek Ceng-sin (Dewa Bumi dan Rejeki).

Sin Tek Bio adalah salah satu kelenteng tua yang dibangun pada jaman Batavia. Dari buku riwayat singkat Sin Tek Bio (Vihara Dharma-Jaya, Pasar Baru) diinformasikan bahwa data lengkap mengenai awal pendirian vihara ini memang tidak ditemukan. Namun diyakini bahwa vihara ini dibangun oleh petani-petani Tionghoa yang tinggal di tepi kali Ciliwung di sekitar Pasar Baru pada tahun 1698. Hal ini dikarenakan, selain letaknya yang jauh di luar kota dan berada di pedalaman, bisa jadi awalnya vihara ini hanyalah sebuah kelenteng kecil, sehingga tidak dikenal seperti kelenteng besar lainnya. Hal ini dapat dilihat dari ukuran dan bentuk atap bangunan Sin Tek Bio, yang selain ukurannya kecil juga tidak dihiasi dengan naga-naga seperti layaknya bangunan kelenteng pada masa itu. Mengenai angka tahun 1698 diketahui dari buku tua yang bertuliskan huruf Tionghoa dan daftar penyumbang pembangunan kelenteng itu tercantum angka 1698.
Pada tahun 1812, Sin Tek Bio yang sebelumnya menghadap ke arah Selatan (terletak di jalan Belakang Kongsi No. 16 - kini dipakai Mie Aboen), kemudian dipindah ke belakang bangunan lama dan menghadap ke Utara (menghadap ke Jalan Samanhudi), dulu disebut sebagai gang Tepekong, sekarang dikenal sebagai Jalan Pasar Baru Dalam Pasar No. 146, Jakarta-Pusat.Adapun perubahan nama dari Kelenteng Het Kong Sie Huis Tek menjadi Sin Tek Bio yaitu setelah dibukanya Passer Baroe (Pasar Baru) pada tahun 1820 (Sejak itu disebut sebagai Sin Tek Bio / Kelenteng Pasar Baru), kemudian pada tanggal 12 Mei 1982 diubah lagi menjadi Vihara Dharma Jaya, dan dikelola oleh Yayasan Vihara Dharma Jaya.
Berikut adalah foto-foto di dalam Vihara, karena diijinkan untuk mengabadikannya :
| Foto Altar Utama Sin Tek Bio : Kong-co Hok-tek Ceng-sin. |
Di sebelah vihara Sin Tek Bio, terdapat Vihara Kuan Im Bio, yang didalamnya terdapat patung Dewi Kuan Im yang dikenal sebagai dewi yang penuh welas asih, melaksanakan cinta kasih dan selalu menolong orang yang sedang bersusah hati. Konon patung Dewi Kuan Im yang ada disana berasal dari Tiongkok abad 16-17. Dalam perjalanan mengarah ke tempal ibadah selanjutnya, rombongan peserta menyusuri gang kecil yang ramai dengan penjaja makanan. rombongan tak mau melewatkan berhenti di penjual cakwe yang menurut info mas Adjie, penjual cakwe tersebut sudah sekitar 40 tahun berjualan disana, sebagian peserta termasuk saya, membeli dan mencicipi cakwe di sana (Enak & empuk – kalo engga, mana mungkin bertahan sampai 40 tahun donk - recommended lho! ).
Setelah itu rombongan peserta melangkahkan kaki ke GPIB Pniel atau yang lebih dikenal sebagai ‘Gereja Ayam’, hal ini karena di menaranya terpasang petunjuk arah angin yang berbentuk ayam jago. Di bagian atas gereja terdapat pula beberapa jendela dari kaca pateri yang bergambar ayam jago. Dijelaskan oleh Mas Adjie bahwa gereja ini dibangun tahun 1856, adapun biaya pembangunannya dikumpulkan oleh Pendeta JFG Brumund. Karena sudah rusak dan dianggap tidak aman lagi untuk digunakan, maka pada tahun 1914 gereja lama dibongkar. Bangunan gereja ayam baru, yang dirancang oleh NA. Hulswit dari Biro Arsitek Cuypers en Hulswit diresmikan pada tahun 1915. Gereja ini dinamakan Gereja Priel sejak tahun 1953. Di gereja ini rombongan peserta diterima oleh Bapak Paulus Souhuwat, Majelis GPIB Pniel. Menurut Pak Paulus, di greja itu tersimpan Injil buatan tahun 1600-an, yang pernah di bawa ke Belanda untuk dibersihkan dan dirawat disana. Menurut Mas Adjie, di kunjungan LOH sebelumnya berkesempatan melihat acara perjamuan kudus.
Rombongan peserta mengarah ke tempat ibadah selanjutnya ke Mesjid Lautze yang terletak di Jalan Lautze 87-89. Mesjid ini didirikan untuk mengenang tokoh Muslim Tionghoa, Oei Tjeng Hien, yang dikenal dengan nama Haji Abdulkarim Oei Beliau adalah tokoh muslim yang tergabung dalam organisasi Muhammadiyah, mantan anggota parlemen RI dan pendiri organisasi muslim Tionghoa dengan nama Persatuan Tionghoa Indonesia (PITI). Setelah beliau wafat, beberapa tokoh dari berbagai ormas dan tokoh muslim Tionghoa sepakat untuk mendirikan Yayasan Haji Karim Oei pada tahun 1991 dengan tujuan untuk mengenang sekaligus untuk memberi inspirasi bagi orang lain mengenai perjuangan Haji Abdul Karim Oei.
Di mesjid ini, peserta rombongan diterima langsung oleh putera Haji Abdulkarim Oei, yaitu Haji Ali Karim. Beliau menjelaskan bahwa mesjid ini diresmikan pada tahun 1994 oleh Bapak B.J. Habibie Mesjid ini dinamakan Mesjid Lautze karena berada di jalan Lautze. Didalam mesjid kita bisa melihat kaligrafi bertuliskan huruf Arab dan China, juga foto Haji Abdulkarim Oei bersama Bung Karno dan Buya Hamka di lantai 3 bangunan mesjid tersebut. Tidak seperti masjid lain pada umumnya, mesjid Lautze ini hanya buka saat Zuhur dan Ashar saja, waktu Magrib, Isya dan Subuh masjid tutup, menurut Haji Ali Karim karena pertimbangan faktor biaya kalau dibuka selama 24 jam. Selain itu kalau malam juga sepi, mengingat daerah ini adalah kawasan usaha/perdagangan. Demikian pula saat bulan Ramadhan, mesjid Lautze berbeda dengan mesjid umumnya karena tidak buka 24 jam dan hanya menyelenggarakan 4 kali sholat taraweh saja, itupun dilakukan pada hari Minggu.
Akhirnya setelah menuntaskan jelajah tempat Ibadah di sekitar Pasar Baru, para peserta rombongan LOH kembali ke kantor filateli. Sebelum kembali, sebagian peserta (termasuk saya) sempat mencicipi mie ayam di depan mesjid ini yang lumayan enak rasanya, atau mungkin juga karena saat itu perut sudah keroncongan karena pas jam makan siang.
Sekali-kali asyik lho melakukan kegiatan seperti ini bersama komunitas LOH (Love Our Heritage), karena selain dapat menambah wasasan kita dalam hal budaya, network sekaligus kita menikmati keberagaman kota Jakarta.
Sekali-kali asyik lho melakukan kegiatan seperti ini bersama komunitas LOH (Love Our Heritage), karena selain dapat menambah wasasan kita dalam hal budaya, network sekaligus kita menikmati keberagaman kota Jakarta.
Subscribe to:
Comments (Atom)














